become world class entrepreneur

| 0 Komentar »
WORLD CLASS ENTREPRENEUR  
Home Search
 
 
entrepreneur
multi level
Real estate
Internet
retail
 

ENTREPRENEUR, REAL ESTATE, MLM, ONLINE BUSINESS

become a worldclass entrepreneur, why not? this site inform you how to become world class entrepreneur. book mark this pages.

Information about entrepreneur and bussiness.

Related Links

 
 
 

kepala sekolah

| 0 Komentar »
Kepala Sekolah (Pura-Pura)
Refleksi Hari Anak Nasional
Penulis:
Sismanto

Tanggal 23 Juli ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional, sebelum mengucapkan selamat pada "HARI ANAK NASIONAL" ini, ada kado istimewa bagi saya sendiri untuk memberikan selamat kepada anak nasional, meski pagi hari itu cuma satu anak yang saya beri ucapan selamat, yakni Ezra, anak TK A yang berada dibawah naungan yayasan pendidikan saya.

Pagi tadi, hari ini juga. Sesorang Ibu mengiba kepada saya untuk memainkan peran sebagai kepala sekolah di sekolah saya. Pantas saja, saya celingukan ke sana ke mari, pekerjaan yang tidak pernah saya sandang, dan hari itu harus saya perankan. Meski pernah beberapa bulan yang lalu saya mengajukan diri sebagai kepala sekolah di sekolah ini, tapi itu hanya sekedar lamaran. Dan setelah melewati proses seleksi dan fit and proper test saya dinyatakan belum diterima sebagai kepala sekolah, mengingat usia yang sangat muda sekali.

Ibu tersebut meminta saya untuk memberikan pengarahan kepada anaknya dengan mengaku sebagai kepala ssekolahnya. Sementara anak ibu baru sekolah di TK A yang kebetulan TK nya satu yayasan/lembaga dengan sekolah saya. Anak kecil tersebut tidak mau sekolah di TK, dia hanya menginginkan sekolah di sekolah saya (SD), secara kakaknya yang juga SD di sini. Mana mungkin bisa anak yang baru sekolah di TK A langsung minta pindah di SD? Kebetulan kakaknya sekolah di sekolah saya, jadi anak kecil tersebut menangis sejadi-jadinya untuk bisa sekolah bersama kakaknya di kelas. Padahal baju TK nya sudah ia pakai sejak pagi tadi.

Sang ibu yang pagi itu menemui Bapak dan Ibu guru untuk minta ada yang menjadi kepala sekolah, teman-teman guru tidak ada yang mau menjadi kepala sekolah (pura-pura) untuk mengakali si anak kecil agar mau sekolah di TK. Akhirnya, beberapa teman guru meminta saya untuk menjadi kepala sekolah (pura-pura). Meski tidak pantes jadi kepala sekolah, saya memberanikan diri untuk menjadi kepala atas permintaan Ibunya, atas ketidaktahuan anak kecil tadi.

Saya langsung mengambil tempat duduk di pojok ruangan yang biasa saya gunakan untuk makan bersama bersama para guru manakala istirahat, dan mempersilahkan Ibu tadi dan anaknya yang masih menangis sesenggukan duduk di depan meja saya. Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada si anak bukan "kamu tidak boleh sekolah di sini ya?" tetapi saya ingin mengajak dan menggiring pikiran anak ini ke arah pembicaraan saya, kepala sekolah (pura-pura).
"namanya siapa nak?" tanyaku merayunya, yang saya ulangi tiga kali meski tetap dicueki si anak. Sampai anak tersebut mau menjawab dan memberitahukan namanya. "Ehhhhukkk.. .....ehhhukkk. ...Ezra". jawabnya. Ibunya juga membantu saya memberikan pengarahan kepada anaknya, "Ezra pak, namanya".

"Ezra, boleh sekolah disini. Karena kakak Ezra juga sekolah di sini. Tapi Ezra tidak boleh satu kelas dengan kakak. Kakak khan sudah kelas III SD, sementara Ezra baru TK A. Untuk sementara Ezra sekolahnya di gedung sebelah sana" sambil saya menunjukkan gedung TK yang seharusnya dimasuki Ezra. Lambat laun, tangisan anak ini reda dan dia mau masuk ke gedung yang seharusnya.

Pagi hari, sebelum jam kerja yang ditandai dengan pukul 07.15 waktu setempat. Sebagai seorang guru dan meski dia juga bukan muridku sendiri. Jiwa-jiwa guru itu, hari itu muncul untuk memberikan pelayanan kepada sesama. Hari ini mengajak saya untuk menjadi guru bagi sesama, guru bagi anak-anak tanpa membedakan, apakah anak tersebut kita didik atau bukan? Apakah anak tersebut anak didik kita sendiri atau bukan? Bagi saya, ketika kita sudah terjun sebagai guru, 24 jam kita dermakan untuk anak-anak didik kita, untuk anak-anak nasional. Anak-anak indonesia "Selamat Hari Anak Nasional, Nak"

Bagaimana dengan kita, apa yang kita berikan kepada anak nasional?

Sangatta, 23 July 2008
Sismanto
"Jadilah guru diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain"

Blogger Membangun Kepercayaan Membangun Bangsa

| 3 Komentar »

Berawal dari Krisis Kepercayaan

Indonesia, negeri yang besar ini, masih disebut sebagai negara yang terkena krisis moneter sejak tahun 1998. Sebenarnya yang terjadi, dan justru lebih parah, adalah krisis kepercayaan. Kepercayaan rakyat terhadap pemerintahnya semakin pudar.

Mau percaya kepada siapa lagi di negeri ini? Hampir semua lembaga pemerintahan berisi oknum yang bobrok moralnya. Cerita kasus suap Jaksa Urip di Kejaksaan Agung akhir-akhir ini, yang menyeret banyak jaksa lainnya di Kajagung, membuat orang Indonesia semakin sinis dengan aparat penegak hukum. Perkara bisa diperjualbelikan oleh hakim dan jaksa asalkan ada imbalan uang yang sangat besar jumlahnya. Gemerincing uang dan harta telah menggoda iman mereka sehingga mau saja disuap oleh orang yang terlibat masalah hukum.

Itu kisah di kejaksaan dan kehakiman. Di gedung lembaga legislatif juga banyak oknum yang cacat moral, mulai dari kasus korupsi hingga skandal seks yang memalukan. Sungguh malu kita dibuatnya oleh perilaku segelintir orang yang disebut sebagai wakil rakyat yang terhormat itu.

Kepolisan? Kita sudah mahfum dengan perilaku oknum polisi yang suka melakukan pungli di jalan, yang suka menggebuk tahanan tanpa belas kasihan, atau yang menjadi pelindung usaha hiburan dan pelacuran.

Pejabat pemerintah daerah dan negara? Sudah tidak terhitung pejabat pemda maupun pusat yang terlibat korupsi uang negara, penggelembungan dana (markup), manipulasi, dan

Sebagian orang yang sudah muak dengan kebobrokan itu memilih mencari jalan selamat masing-masing. Mereka sudah tidak peduli lagi mau jadi apa negeri ini, yang penting diri dan keluarga mereka dulu yang harus diselamatkan.

Memanasnya suhu politik di negara kita saat ini semakin meningkat, disebabkan oleh "perilaku kepemimpinan nasional" kita mulai kehilangan : keseimbangan, kredibilitas dan kepercayaan. Perilaku itu berupa ucapan dan tindakan kontra produktif, antagonis, distorsi komunikasi/informasi dan manipulatif, statemen yang intimidatif.

Sejalan dengan itu profesionalisme para pakar hukum tata negara maupun praktisi politik (politikus) menafsir kebenaran hukum konstitusi secara sendiri-sendiri namun selalu mengatasnamakan lembaga kepresidenan maupun lembaga legislatif, sambil menggalang pembentukan opini publik untuk pembenaran penafsirannya.

Mengendornya koordinasi dan keterpaduan antar penyelenggara negara, menyebabkan rakyat bingung mencari panutan yang benar, bahkan KISS yang semula menjadi idola efektifnya manajemen pemerintahan diplesetkan artinya menjadi : Ke Istana Sendiri-Sendiri atau bagi rakyat diartikan sebagai "Kita Ini Simpang-Siur".

Tidaklah aneh jika selama ini rakyat menunggu datangnya RATU ADIL ternyata yang datang "RATU KEMBAR" yang legitimate dan elected. Namun keduanya sehari-hari menyantap KEMBANG SERUNI, akronim SERU dan BERANI. Saat ini antara Pemimpin dan Rakyat saling berani berbicara yang pembicaraannya menggunakan 1001 macam alasan yang muluk-muluk agar mendapat dukungan rakyat. Tidak jarang para pembesar berani tampil di media massa untuk berdialog dan berdebat dengan rakyat, namun yang terjadi justru adu kepakaran, wal hasil rakyat bingung, iklan-iklan politik setiap hari tampil di televisi, dan internet. Para ilmuwan, agamawan/ulama, politisi dan negarawan tak segan-segan menjual ilmu dengan dalih untuk kesejahteraan rakyat, membungkus kepentingan politik/kelompok dengan agama, mengaku suci murni namun kesuciannya palsu. Lagi-lagi rakyat menjadi kebal terhadap isu politik, yang diperlukan rakyat adalah terpenuhinya rasa aman dalam bekerja dan diperlakukan adil dihadapan hukum. Bukan pertikaian para elite politik yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan mendesak, isi perut.

Mengapa perilaku kepemimpinan nasional kita tidak menunjukkan keprofesionalan selaku penyelenggara negara. Contoh ketidakprofesionalan penyelenggara negra itu antara lain terimplementasi dalam pembukaan KTT G-15 (Keprotokolan dan Tatakrama Pergaulan Internasional, yang tercantum dalam UU No. 8 Tahun 1987 tentang Keprotokolan dan PP No. 62 Tahun 2000 tentang Tata Penghormatan, Tata Tempat dan Tata Upacara), pengangkatan Kapolri (Keppres yang baru bertentangan dengan Keppres yang sebelumnya). Pemberhentian pejabat PNS versi Kabinet I/99 (likuidasi 6 instansi) tanpa prosedur hukum yang sah. Perilaku kepemimpinan nasional yang kontroversal ini membuat rakyat bingung, apalagi juru bicara Presiden dan Wapres beserta para pengikutnya masing-masing senantiasa menyampaikan informasi yang saling dapat dipertentangkan, bahkan jika dibantah sangat mudah disetip atau di tip-ex. Itu baru sebagai contoh konkrit yang dapat diamati dan dirasakan rakyat. Mudah-mudahan segenap komponen pemimpin bangsa tidak memiliki kelakuan seperti yang dilansir oleh LPPSDM Jakarta, yang dengan diinspirasi oleh Albert Bernstein dalam karyanya : "DINOSAURUS BRAIN" 1989 ; merumuskan sifat-sifat negatif sbb :

"Suka bertingkah aneh-aneh, tidak wajar, lucu dan menggelikan. Kemauannya tidak jelas, sulit untuk dimengerti orang. Suka mengancam, menakut-nakuti dan menggertak orang. Sering marah-marah dan mengamuk tanpa ada sebab yang jelas."

"Suka mengejek, merendahkan orang lain. Bahkan kalau menghukum orang merasa bangga dan merasa diri hebat. Tidak mau mainannya diganggu. Teritorialnya tidak boleh dimasuki orang."

"Egois, mau menang sendiri, kurang memiliki rasa toleransi. Sok disiplin, sok peraturan, tidak ada keluwesan sama sekali. Suka cekcok dan berantem dengan sesama "SPECIES". Tega menekan dan memeras sesama ‘bangsa".

"Tidak peka pada perasaan orang lain, sulit diberitahu, ...ndableg...Merasa paling kuat, paling besar dan paling berkuasa tetapi kalau kalah cepat lari. Anggap enteng orang, tidak menghargai sesamanya".

"Merasa paling berjasa, sok pahlawan, sok penting, suka pamer, suka ngambeg, murung, bersikap masa bodo dan tidak bertanggung jawab. Berani hanya di kandang sendiri (jago kandang). Badan segede gunung, nyali cuma sekecil kacang ijo. Amit-amit deh". Sumber inspirasi : Albert Bernstein : "DINOSAURUS BRAIN", 1989.

Maksud LPPSDM Jakarta melansir Dinosaurus Brain, Karya Albert Bernstein di atas bukanlah untuk menyindir para pemimpin, namun diarahkan sebagai bahan kajian para manajer muda (kala itu 1989), agar mau dan mampu merubah perilaku pribadi mereka menjadi perilaku kelompok (tim). Karena sangat disadari kepemimpinan masa depan bukanlah kepemimpinan pribadi/individual, melainkan kepemimpinan antar pribadi, kepemimpinan kolektif, kepemimpinan multi budaya dan bahkan Rosabeth Moss Kanter menyebutnya sebagai : Pemimpin Kosmopolitan (The Drucker Foundation : The Leader of The Future ; 1997, Hal 89). James F. Bolt menyebutnya : Pemimpin Tiga Dimensional (hal : 161).

Sungguh merupakan karya besar anak bangsa, produk konstitusi TAP MPR No. IV/MPR/1999 Tahun 1999 tentang GBHN 1999/2000; TAP MPR No. V/MPR/2000 tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional; TAP MPR No. VII/MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Kepolisian Negara RI. Dalam ketiga TAP MPR itu senantiasa tertera kata : profesionalisme atau keprofesionalan yang dikaitkan dengan rasa tanggung jawab, kehormatan dalam tindakan, integritas dan keteladanan. Inilah akar dasar karakter kepemimpinan yang dapat menumbuhkan respek, rasa hormat rakyat yang dipimpinnya.

Pemimpin dalam bahasa Yunani kuno "THUCYDIDES", artinya :"Memiliki pengetahuan tentang tugas, dan rasa kehormatan dalam tindakan". Pemimpin sejati bersifat adil dan jujur dan bukan hanya karena HUKUM dan ATURAN, mereka merupakan orang yang terbuka, beretika dan dapat dipercayai.

Dalam pada itu pemimpin masa depan menurut Alfred C. Decrane, Jr. disebut sebagai Model Konstitusional. Sifat pemimpin dengan keprofesionalan, yang memahami dan menguasai bahkan mampu mengimplementasikan UUD, dengan segala produk konstitusi di bawahnya secara jelas dan cukup spesifik akan membantu terciptanya bentuk masyarakat yang dikehendaki atau diharapkan oleh konstitusi itu sendiri.

Kecakapan atau kemampuan pribadi (personal mastery) pemimpin dapat diidentifikasi, secara singkat: "Integritas Karakter" merupakan yang paling penting. Pemimpin yang efektif tidak mengejar tujuan dengan menghalalkan segala cara, melainkan harus tetap terikat pada konstitusi sebagaimana yang digariskan lembaga tertinggi dan tinggi negara (legislatif); ketaatan pada konstitusi tidak mengenal kompromi oleh upaya terus menerus dalam mencapai tujuan. Tujuan dan sasaran konstitusi jelas diamanatkan oleh GBHN 1999, dan merupakan pedoman atau kaidah pelaksanaan dari visi, misi dan tujuan nasional. Hal demikian pernah diisyaratkan oleh mantan Kepala New York Stock Exchange : "Masyarakat bisa saja mau memaafkan kita karena kesalahan dalam menilai, tetapi masyarakat TIDAK MAU memaafkan kita karena kesalahan dalam TUJUAN".

Telah dijelaskan di atas bahwa profesionalisme kepemimpinan bangsa telah ditetapkan secara konstitusional, namun pemahaman dan implementasinya tidak dilaksanakan oleh mandataris rakyat. Akibatnya membingungkan rakyat, menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin yang telah dipilihnya secara langsung dan rakyat tetap menjadi pelengkap penderita. Rakyat jenuh wacana politik, banyaknya golongan putih di PILKADA JATENG menunjukkan jenuhnya masyarakat terhadap pemimpin politik yang ada.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan siapapun, tidak untuk menyindir elite politik maupun mereka yang sedang berkuasa. Namun sekedar media untuk introspeksi dan ekstrospeksi untuk kemudian melakukan refleksi, menyusun skenario masa depan yang lebih baik. Sekalipun sudah pasti ada skenario lain yang berlawanan, sejalan dengan wacana dan kondisi strategis lokal maupun global.

Gencarnya penggalangan opini publik para pendukung Presiden di beberapa daerah, terkesan justifikasi dan pembenaran tindakan Presiden dalam berbagai keputusan politik, yang dapat memperuncing situasi konflik.

Untuk menghadapi situasi konflik yang makin meruncing dikalangan elit politik khususnya Presiden dan Wapres, perlu "dialog komunikatif" oleh semua pihak dipandu mediator netral seperti pemuka agama (semuanya) maupun TNI.

Peredam konflik baik horizontal maupun vertikal, yang paling mendasar adalah perubahan perilaku pemimpin, yang semula individual residual : EGOIS, menjadi pribadi negarawan yang arif bijaksana, mau dan mampu memikirkan kepentingan masyarakat. Kepentingan itu adalah dipenuhinya rasa aman, rasa keadilan, dan murah sandang pangan, mudah mencari kerja dan upah yang cukup.

Para mantan pemimpin juga seharusnya menjadi negarawan sejati, dengan tetap memberi dukungan dan dorongan kepada pemerintah yang memimpin.Memberikan kritikan yang tujuaannya membangun, memberi masukan dengan tulus kepada pemerintah sekarang. Bukan mereka saling menjatuhkan, saling menjelekkan dan tidak ada komunikasi diantara para mantan pemimpin negara ini (presiden). Mereka harus dengan legowo menerima kekalahan dalam pemilu dan tetap mencurahkan seluruh pemikiran dan mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Kita melihat bagaimana Hillary Clinton kalah dalam pemilihan melawan Barrack Obama, kemudian Hillary Clinton berpidato mendukung Barrack Obama. Kita juga bisa melihat Amerika Serikat mengutus mantan presidennya untuk misi-misi kemanusiaan, misal dalam misi bencana tsunami di Aceh, mantan Presiden Amerika Bill Clinton menjadi utusan pemerintah untuk memimpin misi pemerintah Amerika.

Selain krisis kepercayaan dalam negeri kita juga mendapatkan krisis kepercayaan dari negara-negara lain. Acara satu jam TALKING POINT di BBCWORLD pada Sabtu sore (8/1/04) menghadirkan Dubes Indonesia untuk Inggris, Bapak Pratomo. Topik bahasan tentu saja seputar Tsunami, dana bantuan dan koordinasi dana itu supaya sampai ke tangan korban, dll. Acaranya LIVE dan pemirsa di seluruh dunia yg ingin berkomentar atau bertanya bisa langsung menelpon tanpa dipungut biaya (collect call). Karena pulsa HP saya lagi ‘kesepian' saya tak jadi ikut nimbrung di acara yg sangat menarik itu. Sebelum berkomentar soal isi diskusi, ada beberapa catatan yg ingin saya buat perihal penampilan DUBES KBRI London di acara tsb.Pertama, saya merasa ‘bangga' dg kesediaan beliau tampil di acara tsb. Dari yg saya tahu, dialah dubes pertama kita di London - dan mungkin di seluruh dunia- yg pernah jadi tamu acara itu. Kedua, dia tampil meyakinkan dg bahasa Inggris yg lumayan dan kemampuan memberi komentar yg cukup diplomatis kendati terkadang kurang meyakinkan (unconvincing). Dari beberapa cerita rekan-rekan saya di Inggris, KBRI London sebelum ini selalu menolak permintaan wawancara BBC atau CNN. Ini berbeda dg negara ASEAN lain yg malah minta diwawancarai apabila negara mereka sedang memenuhi headline media dunia. Alasan penolakan biasanya seragam di mana-mana: lagi tidak di tempat, sedang main golf (tentu saja pada jam kerja), atau lagi ‘berhalangan'. Intinya, ada rasa tidak percaya diri kolektif diplomat kita yg saya tidak tahu sebab utamanya; apakah karena kelemahan bahasa Inggris (pejabat deplu mestinya yg paling pinter Inggrisnya dari yg lain), ketakutan salah memberi jawaban, atau kedua-duanya. Dalam konteks ini, kesediaan Dubes KBRI London kali ini patut mendapat apresiasi dan memberi preseden yg baik bagi KBRI lain.

Namun demikian, perlu kiranya langkah itu diikuti dg langkah lain yg lebih ‘agresif'. Misalnya, saat initsunami sedang memenuhi headlines media dunia, termasuk India. Ada baiknya kalau KBRI New Delhi juga menawarkan diri untuk diwawancarai TV India seperti NDTV, dll, bukan menunggu dipanggil. Ini salah satu momentum untuk melakukan diplomasi pro-aktif. Di lihat dari jumlah korban kita yg terbesar, coverage media soal tsunami di Aceh masih terhitung ‘kecil' dibanding, misalnya, Thailand yg korbannya hanya sekian ribu atau Sri Lanka yg menduduki nomor dua terbesar korban tsunami setelah Aceh. ***

Dari sekian banyak penanya dari seluruh dunia di acara TALKING POINT itu, terdapat seorang wanita Indonesia yg dari suaranya yg lembut tampaknya berwajah rupawan. Namanya Ananda. Komentarnya cukup menarik. Ia mengatakan bahwa dana bantuan untuk korban tsunami dari berbagai penjuru dunia hendaknya tidak disalurkan melalui pemerintah. Menurutnya ada alternatif lain yg jauh lebih baik:

(a) melalui lembaga-lembaga internasional; atau

(b) melalui LSM lokal; dan idealnya

(c) kerja sama antara LSM/institusi internasional dan LSM lokal.

Semua kita tahu, dalam situasi bencana yg sangat parah dan sangat luas semacam ini, institusi pemerintah adalah satu-satunya lembaga yg paling lengkap infrastrukturnya di segala bidang. Komentar dari Ananda itu semakin menggarisbawahi adanya krisis kepercayaan mendalam rakyat kita pada pemerintah. Apalagi pemerintah Aceh yg gubernurnya, Abdullah Puteh, lagi sibuk menghadapi skandal korupsi besar di pengadilan. Kalangan dermawan memberi bantuan jelas ditujukan untuk rakyat jelata korban tsunami. Bukan pada para pejabat yg korup. Dan dg kondisi pemerintah kita yg identik dg KKN, bagaimana dana bantuan itu akan terjamin sampai ke tangan yg berhak, bukan jatuh ke tangan para pejabat yg lagi haus uang haram itu?Pemerintah memang perlu melakukan soul-searching serius dan mengambil langkah perombakan komprehensif untuk membangun kredibilitasnya yg hancur lebur di mata rakyat. Individu-individu pejabat harus memulai dari diri sendiri, tanpa perlu perintah atasan untuk berperilaku bersih. Manajemen birokrasi kita yg tak kondusif untuk hidup bersih memang sering menggoda pejabat untuk korupsi. Sebagai contoh, anggaran tahunan KBRI yg harus habis di akhir tahun dan kalau tidak dihabiskan akan mengurangi anggaran tahun berikutnya. Ini salah satu contoh yg ‘memaksa' diplomat ‘membumihanguskan' anggaran tahunan dg berbagai program mark-up. Baharuddin Lopa, almarhum, ketika menjadi dubes KBRI Riyadh (Saudi Arabia) sempat mengembalikan sisa anggaran tahunan itu. Semestinya sikap Baharuddin Lopa ini mendapat penghargaan nasional. Namun, apa yg terjadi? Hampir semua anak buahnya membencinya. Saya beruntung sempat berbicara langsung dg salah satu diplomat KBRI Riyadh di Mina, Saudi Arabia. Jadi ini bukan gosip. Saya jadi sempat berpikir, mengapa untuk menjadi pejabat bersih dan baik begitu sulit, begitu tidak kondusif di Indonesia?

Dg kata lain, mengapa suasana birokrasi kita begitu kondusif untuk korupsi? Mengapa negara kita menjadi lima negara paling korup dari 150 negara dunia? Sekali lagi, jangan salahkan Ananda. Apa yg ia katakan di acara TALKING POINT itu mewakili suara jutaan rakyat Indonesia. Ananda secara implisit seakan ingin mengatakan bahwa "semua pejabat adalah korup sampai terbukti sebaliknya".
Membangun Kepercayaan

Presiden terpilih pertama secara langsung Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, seharusnya bisa mempertahankan kepercayaan masyarakat yang menjadikan dia mandataris rakyat. Kepercayaan itu memang juga sangat sulit dipertahankan. Satu kesalahan sedikit dari orang yang dipercaya atau anak buahnya (bawahannya, mentri kabinetnya) bisa menghancurkan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. dengan terbongkarnya banyak kasus korupsi bawahannya memang melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap presiden terpilih langsung saat ini. Ini terlihat dari berbagai survay yang ada memang perolehan suara untuk bapak presiden saat ini bisa dipastikan turun.

Demikian pula kita juga sulit untuk membangun kepercayaan dari orang-orang asing terhadap bangsa dan negara kira. Kita lihat saat ini banyak LSM Indonesia juga mulai tidak dipercaya oleh masyarakat manca negara.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun kepercayaan.

1. Kejujuran yang satu kata dengan perbuatan. Kalau saya memberantas korupsi dengan satu tangan sedangkan tangan kiri masih mau menerima ya sudah, masyarakat nggak akan mau percaya.

2. Bersikap profesional. Bersikap profesional adalah sangat penting. Katakan bisa bila bisa dan katakan tidak bisa bila tidak bisa, atau bahkan sampaikan dahulu segala sebab dan akibat dari suatu tidakan yang akan kita lakukan pada semua orang yang berkepentingan kepada kita. Seorang dokter profesional akan mengatakan apa yang akan dilakukan dan apa akibatnya. Saat saya akan melepas gigi dan datang ke dokter gigi umum, yang bersangkutan mengatakan bahwa dokter spesialis bedah mulut lebih ahli dalam melaksanakan pecabutan gigi, walaupun dia juga sanggup untuk mengerjakannya. Saat saya mengatakan, "okey anda saja yang mengerjakan", sang dokter pun dapat mengerjakannya dengan baik. Dokter tersebut mempunyai resiko pasiennya hilang, namun dokter tersebut juga berkata jujur dan profesional. Bila memang terjadi masalah dan pasien harus menunggu bantuan dokter ahli atau bahkan dikirim ke dokter ahli, dokter tersebut tetap dipercaya. Dokter tersebut tidak mau langsung mengerjakan asal dapat uang ntar kalau ada masalah dikirim ke dokter ahli. Sikap profesional inilah merupakan hal penting dalam membangun kepercayaan.

3. Disiplin, tepat waktu, dan tepat janji juga merupakah hal yang tak kalah pentingnya dalam membangun kepercayaan.

4. Bersikap ksatria dalam menghadapi masalah, tidak menyalahkan orang lain maupun pendahulu. Saat Presiden tepilih menerima jabatan kepercayaan, bagaimanapun warisan kondisi yang ada beliau tidak boleh menyalahkan pendahulunya. Tentu saja bila pendahulunya melanggar hukum ditindak, tapi kalau kesalahan pengambilan keputusan sekarang adalah dia yang dipercaya dan yang bertanggung jawab. Bila memang ada masalah dan tidak mampu mengatasi keadaan, harus secara ksatria menyampaikan semua kesalahan dan permasalahan pada masyarakat.

Demikian dengan adanya kepercayaan bangsa dan negara kita pasti akan maju. Kita semua sebagai bangsa Indonesia juga harus berusaha untuk membentuk kepercayaan dunia pada kita. Dengan berinteraksi secara online yang nyata saat ini, kita bisa membantu pemerintah untuk memperoleh kepercayaan baik dalam dan luar negeri. Melalui blog-blog kita kembangkan kepercayaan masyarakat dunia terhadap pemerintah, bangsa dan negara Indonesia....

 

Dari segala sumber....


Anatoly Batuaji

Membangun bangsa melalui dunia maya

| 0 Komentar »
Dunia internet saat ini sedemikian majunya. Kita tanpa pandang lokasi dan waktu bisa berkiprah di dunia tanpa kenal batas waktu dan tempat. Kita bisa berinteraksi dengan seluruh masyarakat indonesia yang memiliki koneksi internet, koneksi internet pun sudah mulai bagus sekali di daerah kami sebuah kota kecamatan dengan  nama WIrosari. Berkat dibukanya layanan speedy telkom, dahulu untuk online dedicated kami harus mengeluarkan dana Rp. 2 juta per bulan, sekarang dengan speedy office kami cukup mengeluarkan Rp. 750.000/ bln.

Dengan online kami bisa mengkomunikasikan kota kecil kami Wirosari (www.wirosari.net) ke seluruh masyarakat Indonesia
bahkan dunia. Dengan demikian pembangunan di sini bisa mendapatkan masukan ide dari teman-teman atau masyarakat seluruh Indonesia. Khusus untuk ide yang membangun bisa memberikan komentar di myflexiland, sebab terbatasnya ruang data yang ada di www.wirosari.net, link ke forum kami linkkan di wirosari.myflexiland.com. Speedy sendiri mulai masuk ke Wirosari baru bulan Mei 2008, sejak saat itu pula kami membangun www.wirosari.net.

Kembali membangun Bangsa dengan internet, seluruh masyarakat bisa bahu-membahu untuk membangun negara Indonesia
sebagai negara Kesatuan, dengan teknologi informasi saat ini, kita bisa berinteraksi dengan seluruh masyarakat Indonesia, asalkan kita online, kita bisa berdiskusi bagaimana memberdayakan masyarakat. Kami telah memberikan link di www.wirosari.net untuk Pemberdayaan Masyarakat, kami minta semua teman yang mau membantu membangun Bangsa ini bisa memberikan masukan untuk isi link pemberdayaan masyarakat. saat ini kami meminta team PNPM (program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) untuk mengisinya. Namun mereka belum mengisinya hingga sekarang karena mereka sedang memberikan KUR (kredit usaha rakyat). Ide-ide kita mudah tersalurkan saat ini untuk ide lokal tinggal masukkan website lokal. myflexiland mudah-mudahan bisa mendukung website  lokal baik secara materi, grafis, maupun pelatihan pemilik website lokal. Bahkan syukur-syukur bisa tukar link akses, dan menambah ads seperti google adsense, sehingga bisa membantu menbiayai website yang diberdayakan sendiri oleh kelompok masyarakat diluar pemerintah.

Setelah membangun dan berinteraksi secara maya dengan teman-teman sebangsa dan setanah air, kita bisa menunjukkan pada dunia tentang negara dan bangsa kita. Bahkan kita juga bisa bekerja secara maya untuk menghasilkan devisa guna pembangunan bangsa kita. Kita bisa menjadi  affiliate perusahaan-perusahaan asing. Affiliate adalah broker atau makelar, dalam dunia maya bila kita memiliki website yang bagus dan diakui dunia banyak orang mau menerima newsletter dari kita maka kita bisa menawarkan barang produsen ke konsumen dan kita mendapatkan komisinya.

Seorang Indonesia pernah cerita bahwa di menjadi makelar kuda, penjualnya orang Amerika, pembelinya orang Jerman dan makelarnya orang Indonesia. Hal itu sangat mungkin terjadi saat ini bila kita memiliki website yang diakui dunia, orang-orang mau memberikan datanya, kemudian mereka mau menerima newsletter kita dan berkunjung secara rutin ke website kita. Nah suatu saat ada penjual membutuhkan pembeli dia bisa kita tawarkan, "Bagaimana bila barangmu aku jualkan?" Nah bila
jawabannya "YA", kita pasang iklannya di website kita, kita kirim newsletter ke seluruh pelanggan kita, jadilah kita makelarnya.

Kita harus secara jujur, bertanggung jawab, dan tidak melakukan kecurangan dalam berinteraksi melalui dunia maya ini. sudah semestinya kita tunjukkan kepada dunia bahwa negara kita bukanlah sarang teroris yang berbahaya, namun negara kita berisi orang-orang yang bertanggung jawab, jujur dan mampu bekerja dengan baik dan mereka bisa bekerja sama dengan kita. Mereka bisa berinvestasi di Indonesia dengan aman. Mereka bisa memasukkan modal mereka di pasar modal Indonesia. Mau membeli saham telkom dan perusahaan Indonesia yang listing di NYSE (bursa saham new york), karena mereka telah banyak berinteraksi dengan masyarakat Indonesia.
Dikomentari yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...................
Terima Kasih

www.wirosari.net